Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Kisah Ita, Anak Pedagang Mie yang Gigih Menghafal Alquran

Ita memiliki cita-cita menjadi seorang hafidzah.


Ita masih sangat belia. Baru 11 tahun. Gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Saban lepas Subuh, Ita dengan telaten membantu ayahnya menyiapkan aneka macam keperluan untuk berjualan mie ayam. Ayah Ita, Selamet, merupakan penjual mie ayam di depan masjid dekat rumahnya.


Ita juga seorang santri di Rumah Tahfidz Daarul Quran Miftahul Jannah, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Meski berasal dari keluarga sederhana, Ita memiliki cita-cita menjadi seorang hafidzah atau penghafal Alquran. Kini, Ita sudah menghafal 18 juz Alquran.


" Ita sudah menghafal Alquran sejak usia enam tahun," demikian siaran pers PPPA Daarul Qur'an.


Koordinator Daerah Rumah Tahfidz wilayah Jawa Timur, Ustaz Ya'qub, menemui Ita di rumahnya dan memberikan bantuan.


Saat berbincang dengan Ita dan keluarganya, diketahui bahwa anak perempuan itu begitu gigih untuk bisa hafal 30 juz.


" Ita juga terbiasa mengulang hafalannya sebanyak dua juz setiap hari. Itu semua dilakukannya untuk tetap menjaga hafalan yang sudah ia dapatkan selama ini. Aktivitas mengulang hafalannya kerap ia lakukan saat sebelum memasuki waktu Salat Zuhur dan sesudah Maghrib."


Ita dan Ayahnya

© Istimewa


Selain ikut membantu ayahnya, Ita juga tak pernah absen belajar di rumah tahfiz.


" Ita membantu ayahnya bekerja sebagai wujud baktinya kepada orang tua," demikian keterangan Daarul Qur'an.


Kisah Devi, Santri Hafizah 30 Juz Al Quran Penerima Beasiswa

Dream - Devi Puji Lestari, 23 tahun, akhirnya menuntaskan tanggung jawabnya sebagai penerima manfaat Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ) for Leaders. Devi akan memulai tahapan pengabdian pasca beasiswa.


Ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz di depan penguji Daarul Qur’an yaitu Ustadz Ulil Abshar, al Hafidz.


Anak kedua dari pasangan Sahlan dan Mujilah ini, sama sekali tidak menyangka akan cukup lancar ketika diuji 30 Juz di depan pengujinya langsung.


Pasalnya Devi baru seminggu lalu mendapati kabar pengumuman ujian akhir BTQ for Leaders 30 juz karena handphone-nya rusak.


Aktif di Lingkungan Pesantren Sejak Kecil

Sebelum menjadi penerima manfaat BTQ for Leaders empat tahun lalu, Devi juga seorang santri di sebuah pesantren ternama di Yogyakarta. Aktivitas kesantriannya sudah Devi lakoni sedari SD.


Devi menghafal Al-Qur’an karena perintah Ibu Nyai. Devi menceritakan bahwa pada waktu itu ia memang hanya mengikuti dawuh-dawuh gurunya.


Sejak kecil ia tidak berencana menjadi penghafal Al-Qur’an, perjalanannya menjadi penghafal Al-Qur’an justru berawal dari guru-gurunya.


Berawal dari permintaan-permintaan sang guru, akhirnya Devi sadar dan bersyukur hidup di lingkungan pesantren.


“ Mungkin kalau aku tidak nyantri hidupku berbeda dari saat ini. Bapak Ibuku bukan orang yang sekolah, juga tidak bisa ngaji. Teman-teman di lingkunganku, di rumah juga tidak sedikit yang putus sekolah,” cerita Devi yang bercita-cita untuk membuat majelis Al-Qur’an di rumahnya nanti


Mendapat Predikat 'Mbak Ndalem'

Berada di lingkungan pesantren sejak kecil, mengantarkan Devi menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah pada kehidupannya.


Devi pun mengaku bahwa sejak kecil memang selalu mendapatkan beasiswa, sampai di pesantren dirinya juga mengabdi sebagai 'Mbak Dalem', sebuah istilah yang disematkan untuk santri yang ikut kiyainya, santri ndalem akan membantu urusan pesantren seperti memasak dan bersih-bersih. Biasanya santri ndalem ini juga dibebaskan dari administrasi keuangan pondok.


Sebagai santri ndalem Devi menjadi harus belajar ekstra tentang kedisiplinan, harus membantu keperluan pesantren dan kuliah juga hafalan Al-Qur’an menjadi harus selaras dan seimbang, terlebih ia juga menjadi pengurus pondok.


Berbagai kesulitan hingga takzir (hukuman) di pesantren pun kerap didapatkannya manakala ia harus pulang terlambat. Untuk menyiasati semua kegiatannya, akhirnya Devi membuat skala prioritas dalam menjalani hari-harinya.


Merasa Sangat Bersyukur

Kini Devi sudah selesai dari pesantren dan melanjutkan tanggung jawab hafalan lagi sebagai penerima manfaat BTQ for Leaders.


Hingga pada hari Kamis, 10 September 2020, ia amat bersyukur telah berhasil menuntaskan tanggung jawab hafalan 30 juz sebagai penerima manfaat beasiswa dari PPPA Daarul Qur’an.


“ Bahagia sekali, akhirnya selesai. Sudah empat tahun bersama PPPA Daarul Qur’an, banyak pelajaran yang saya dapatkan disini, belajar cara menghafal, cara mengingat-ingat, tahsin Qur’an, belajar pemberdayaan, kemanusiaan, sampai fotografi, dan banyak yang lain yang mendukungku, meningkatkan skill-ku untuk nanti persiapan pengabdian,” ujar Devi yang sebentar lagi akan melakukan pengabdian di Kampung Qur’an.

Post a Comment for " Kisah Ita, Anak Pedagang Mie yang Gigih Menghafal Alquran"