Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Arya Harus Berbaring di RSHS Karena Penyakit Langka GBS



Arjuna Arya Atarahman sudah sebulan lebih menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Bocah dua bulan asal Kabupaten Bandung itu menderita penyakit langka bernama Guillain-Barre Syndrome (GBS). 

Dokter Spesialis Anak Konsultan Saraf RSHS Stanza Uga Peryoga menjelaskan, Arya datang setelah dirujuk RS Majalaya 8 Juni 2018, dengan gangguan kesulitan menelan disertai timbulnya kelemahan pada tungkai kaki yang menjalar hingga ke atas tubuhnya..

Pada hari pertama perawatan, Arya dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSHS. Rumah Sakit pun menyiapkan Plasmapheresis, yaitu perawatan yang dikenal sebagai pertukaran plasma atau pembersihan darah. 

"Kami persiapkan perawatan Plasmapheresis karena itu prirotas utama," terang Stanza, Senin (9/7/2018). 

Hari kedua, Arya dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Kemudian hari ketiga, otot pasien mengalami kelumpuhan yang naik sampai pernapasan


Stanza menerangkan, GBS merupakan penyakit auto-immune disease yang menyerang saraf. Dalam keadaan yang sama terdapat, virus di saluran pernapasan Arya yang kemudian menempel di saraf perofera. 

Namun kondisi penyakit Arya mulai mengalami perbaikan. Misalnya, upaya napas spontan sudah lebih baik meski tetap diberi bantuan pernapasan lewat ventilator. 

"Kemungkinan kita akan turunkan volume bantuan napasnya jika kondisi sudah membaik," jelas Stanza. 

Selain itu, kata Stanza, terdapat infeksi pneumonia atau radang paru-paru yang memperberat kondisi Arya. Untuk mengobatinya, Arya memerlukan antibiotik. 

"Saat ini sudah ada perbaikan, tidak ada panas. Tapi kita tetap kontrol darah dan jantung. Untuk saat ini yang jadi tantangan adalah meminimalisir infeksi dan menyesuaikan bantuan pernafasan," terangnya. 

Terkait antibodi yang menempel di saraf tepi, dokter masih butuh waktu untuk menangani. "Mudah-mudahan saja dengan dukungan doa juga pasien ini bisa pulih. Karena masih dalam keadaan kritis, perlu pengawasan ketat dirawat di PICU," jelasnya. 

Stanza mengakui biaya perawatan pasien GBS seperti yang dialami Arya sangat mahal. Pihaknya sudah mempunyai Plasmapheresis untuk menangani penderita GBS. Plasmapheresis berfungsi memisahkan antibody yang merusak.  

Menurutnya, kasus penyakit GBS pada anak cukup sering terjadi. GBS termasuk penyakit penyebab kelumpuhan pada anak. GBS berbeda dengan polio yang sudah turun dengan program imunisasi. Ciri GBS ialah gejalanya yang tiba-tiba. “Kalau tiba-tiba melemah dan mendadak terjatuh itu harus dicurigai," ucapnya. 

Sejak dua tahun terakhir, RSHS telah menerima 40 kasus penyakit GBS. Rata-rata usia remaja dari umur belasan tahun hingga balita atau anak berbobot 10 kilogram. Dari sejumlah pasien tersebut, beberapa bisa sembuh. 

"Beberapa pasien sudah bisa aktivitas lagi dengan menjalani fisioterapi," tutur Stanza. (Ananda Gabriel)

Post a Comment for "Arya Harus Berbaring di RSHS Karena Penyakit Langka GBS"